SANDWICH / BURGER GENERATION

burger-sandwich-generation-

Assalamualaikum! Bismillah!

Hmmm… Apa yang terbayang ketika kamu mendengar kata Burger? Makanan yah?

Coba kamu sambil baca tulisan ini bayangkan bentuk Burger. Burger itu terdiri dari 3 bagian yaitu dari paling atas adalah Roti, kita ke bagian tengah ada isinya (beef, cheese, sayuran, mayo, dan lain – lain), di bagian bawah ada roti lagi. Kalau diposisikan dengan kondisi generasi sekarang ibaratnya kamu adalah bagian isi Burger, bagian roti atas adalah orang tua dan bagian bawah adalah keluarga kamu sendiri.

Jadi kurang lebih Burger Generation itu adalah generasi yang menhidupi dua generasi. Pertanyaannya, apakah saya termasuk Burger Generation itu? Jika iya, gimana solusinya? Kita bahas yuk.

Suatu hari ada yang whatsapp saya, seorang dari Makassar bertanya “Rif, saya ini karyawan swasta yang sudah berkeluarga dengan istri mengurus rumah tangga dan mempunyai dua orang anak.

Saya saat ini harus membantu kedua orang tua saya bahkan mertua saya dan juga menyekolahkan kedua orang anak (wow, lumayan ya). Saya merasa secara keuangan sudah bekerja keras, tetapi tidak kunjung sejahtera. Bukannya tidak mau membantu orang tua, tetapi saya mau berbakti kepada orang tua dan tetap sejahtera. Lalu.. Bagaimana cara mengatur pemasukan saya?”

Kondisi dari Mas Bro di atas termasuk dalam kategori Burger Generation. Ada beberapa langkah yang bisa diambil saya urutkan dari yang paling utama :

  1. Buat perencanaan keuangan.
  2. Perbesar penghasilan, kalau bisa lebih dari satu sumber penghasilan.
  3. Kurangi pengeluaran – pengeluaran konsumtif.
  4. Perhatikan managemen resiko dengan berkoordinasi dengan nilai – nilai investasi.

Dikutip dari Buku berjudul 28.000 Days karya dr. Sanjay Tolani, bahwa rata – rata manusia menghabiskan 28.000 hari atau sekitar 80 tahun. Kalau dibagi menjadi sama rata menjadi 4 bagian maka akan terbentuk seperti ini :

  • 0 – 20 tahun, dimana bagian ini kegiatan dari baru lahir, sekolah, pacaran, mulai kuliah. Bagian ini belum menghasilkan uang sendiri dan masih membutuhkan pengeluaran.
  • 21 – 40 tahun, dibagian ini digambarkan dengan kita mulai bekerja, berkarir, menikah, punya rumah sendiri, satu kendaraan pribadi, punya anak dan menyekolahkan anak. Bagian ini sudah mulai bisa menghasilkan pemasukan sendiri dan pengeluaran ekstra.
  • 41 – 60 tahun, dibagian ini digambarkan dengan karir kita mulai naik, anak mulai masuk kuliah, beli rumah kedua, mobil kedua, jalan – jalan spiritual (haji, umroh, jalan ke jerusalem atau vatikan dan lain – lain). Bagian ini pendapatan kita sudah mulai naik dan anak sudah bisa mulai mandiri.
  • 61 – 80 tahun, dibagian ini sudah mulai pensiun dan tidak produktif alias sudah tidak menghasilkan uang sendiri (sama seperti bagian pertama usia 0 – 20 tahun).

Untuk Mas Bro yang whatsapp saya sebelumnya, bahwa dia itu berada di generasi 2 atau 3 namun harus bertanggung jawab kepada generasi 1 dan 4. Kondisinya adalah kejepit ditengah – tengah. Kenapa kondisi Burger Generation ini bisa terjadi? Karena orang tua gagal untuk merencanakan keuangan untuk pensiunnya bahkan tidak pernah membuat perencanaan sama sekali (ini kondisi kebanyakan orang tua di Indonesia), sehingga anak harus menanggung orangtuanya ketika pensiun. Hal yang sama dapat terjadi apabila kamu yang saat ini ada di posisi usia produktif tidak membuat perencanaan keuangan pensiunnya, terus menerus terulang ke anak kamu nanti.

Jadi ada 3 penghasilan yang harus dimiliki antara lain penghasilan aktif, pasif dan investasi (nanti kita bahas). Sayangnya kebanyakan orang di Indonesia belum banyak yang terbuka dengan perencanaan keuangan. Yang bikin miris adalah ketika ada orang yang sudah mencairkan Jaminan Hari Tua (JHT) di usia muda, entah karena di PHK atau keluar dari pekerjaan (nanti kita bahas lagi, karena ini adalah tindakan yang salah). Apa saja masalah keuangan yang dihadapi Burger Generation?

  • Makin besar pengeluaran karena ada pengeluaran pribadi, anak, keluarga dan orang tua. Ada juga potensi masalah karena gangguan kesehatan dengan si Burger Generationnya atau si pencari nafkahnya atau si orang produktifnya. Banyak orang yang bergantung dengan dirinya. Lalu apakah ada solusinya? Ada! Perlu memiliki perencanaan keuangan. Cara mensiasatinya adalah si pencari nafkah harus mempunyai pemasukan sebesar 2x lipat dari pengeluaran (tentu tidak mudah, tapi dengan perencanaan keuangan bisa teratasi) dan mempunyai asuransi diluar BPJS yang berbasis Syariah (silahkan hubungi perencana keuangan profesional yang kamu kenal).
  • Kredit konsumtif, seperti hutang liburan, beli gadget baru, renovasi rumah. Jangan ambil cicilan untuk hal tidak produktif! Kenapa? Itu semua dapat mengganggu cashflow kamu. Jika kamu punya banyak pinjaman segeralah lunasi! Jika kebingungan segera hubungi perencana keuangan kenalan kamu untuk dapat mengarahkanpelunasan hutang itu.
  • Dana darurat, Burger Generation ini perlu banget adanya dana darurat. Cara nentuinnya gimana? Dana darurat itu harus dimiliki sebesar 12x pengeluaran bulanan.

“Rif, kalau saya sudah nyiapin Jaminan Hari Tua dan nominalnya cukup bagaimana? Namun anak saya tetap mau transfer sejumlah uang tiap bulannya ke saya, gimana? Apakah uangnya saya tolak?”

-Teman

Jawabannya apa? Jawabannya jangan ditolak lah… uang..

  • Kan bisa jadi tanda baktinya kepada kamu sebagai orang tua, yaaa walaupun cinta orang tua tidak bisa diukur dengan uang.
  • Ambil saja, biarkan itu jadi ladang pahala buat anak kamu.
  • Toh uangnya nanti balik lagi ke anak kamu kelak, entah buat jajan anaknya (cucu kamu) atau kalau lagi darurat nanti anakmu bisa minjam uang ke kamu (kamu juga pernah kan kalau kepepet ujung – ujungnya ke orang tua)

Jadi… Sampai sini dulu pembahasan dari Generasi Burger ya..
Kalau sekiranya bermanfaat silahkan share link tulisan ini ke keluarga, saudara, teman kamu ya atau bisa juga posting di sosmed kamu. Dengan begitu semoga menjadi amal jariyah buat kamu kamu semua, JAZAKALLAHU KHAIRAN…

Berinteraksi Disini

%d blogger menyukai ini: